Kue Keranjang
Klappertaart
Lapis Legit
Kue Mangkok

Ombus
Lepet
Kue keranjang berasal dari budaya Tiongkok yang dibawa dan tersebar dalam keturunan etnis Tionghoa di Indonesia yang memiliki nama Mandarin yakni nian gao, “年” (nian) berarti tahun, dan “高” (gao) berarti tinggi, sehingga nama kue ini memiliki makna peningkatan dalam kemakmuran. Kue keranjang memiliki bahan dasar tepung ketan dan gula sehingga bertekstur kenyal dan lengket. Di zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa tempat masak dalam dapur didiami Dewa Tungku, yang bertugas mengawasi kegiatan dapur setiap hari dan melaporkannya pada Raja Surga. Setiap akhir tahun, tanggal 24 bulan 12 Imlek (atau 6 hari sebelum Imlek), Dewa Tungku akan pulang ke surga untuk melaporkan tugasnya kepada Raja Surga. Jadi, untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk memberikan hidangan yang menyenangkan atau hal-hal yang dapat membuat Dewa Tungku tidak murka, dalam bentuk kue keranjang. Di Indonesia, kue keranjang dibuat dan dijual mendekati dan selama perayaan Tahun Baru China/ Imlek.
Klappertaart
Klappertaart dikenal sebagai kue khas Manado dengan bahan dasar kelapa, tepung terigu, susu, mentega dan telur. Klappertaart juga diisi dengan taburan kismis dan kenari. Resep adonan tersebut merupakan pengaruh saat zaman pendudukan Belanda di Manado. Terdapat beberapa macam cara memasak klappertaart yakni dipanggang dan tanpa pemanggangan. Bila dipanggang dan menggunakan roti, maka akan menghasilkan klappertaart dalam bentuk yang padat, bisa dipotong layaknya kue taart pada umumnya. Tetapi ada juga cara memasak yang tidak panggang. Metode ini akan menghasilkan tekstur yang begitu lembut, seperti memakan custard yang langsung meleleh begitu masuk ke mulut. Kue ini paling nikmat bila disantap dalam keadaan dingin jadi tidak boleh dibiarkan terlalu lama di luar pendingin.
Lapis legit atau spekkoek adalah kue yang terbuat dari tepung terigu, kuning telur, gula, dan mentega atau margarin. Lapis legit memiliki lapisan-lapisan dan bercita rasa manis, bertekstur agak lembut namun kokoh dan lembab ini populer di Indonesia dan Belanda. Umumnya lapis legit berwarna kuning kecoklatan. Kue yang berlapis-lapis ini biasanya dinikmati saat hari Lebaran, Natal maupun Imlek. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, banyaknya lapisan kue melambangkan banyaknya rejeki yang akan datang. Di Belanda, irisan kue ini biasanya disajikan sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut dalam jamuan rijsttafel.
Lapis legit ini berkembang selama masa kolonial Belanda di Indonesia dan terinspirasi dari kue Belanda dengan menggunakan bahan lokal asli Indonesia. Kue lapis legit dibuat dari berbagai macam rempah-rempah yang memang sangat disukai oleh orang Eropa di antaranya kapulaga, kayu manis, cengkeh, adas manis sehingga rasanya sangat khas kaya akan aroma rempah. Kue ini kemudian banyak diadaptasi di beberapa daerah di Jawa khususnya di Jawa Timur yang kemudian kita ketehaui seperti spekkoe Surabaya dan lapis legit Malang yang banyak dijual di pusat oleh - oleh Surabaya dan Malang.
Kue ini merupakan hasil akulturasi budaya yang dibawa oleh imigran Tiongkok kepada masyarakat keturunan etnis Tionghoa di Indonesia. Disebut kue mangkok karena bentuknya yang berasal dari cetakan mangkok yang dahulu kala menggunakan mangkok porselain sebagai cetakannya. Kue mangkok terlihat mirip dengan bolu kukus, namun memiliki warna merah cerah. Warna merah cerah melambangkan kebahagiaan bagi kaum Tionghoa. Selain itu, bentuk merekah dari kue mangkok juga melambangkan pengharapan, peningkatan, kemakmuran atau kesejahteraan. Pada acara Imlek, kue mangkok menjadi salah satu makanan yang disajikan, namun jumlahnya harus ganjil. Kue mangkok pun menjadi salah satu barang persembahan di altar bagi para leluhur di setiap upacara perayaan. Sembahyang dengan menyertakan kue mangkok dipercaya dapat membantu menyampaikan permohonan atau pengharapan orang Tionghoa kepada para leluhurnya.
Berbeda dengan bolu kukus biasa, pada adonan kue mangkok ditambahkan tapai singkong yang membuat teksturnya sedikit kenyal dan rasanya manis. Selain adonan, ukuran kue mangkok juga berbeda dengan bolu kukus. Terdapat 3 ukuran kue mangkok yang berbeda. Ukuran sangat besar dan berjumlah satu buah dalam setiap bungkus, ukuran sedang dengan jumlah lima buah dalam satu bungkus, dan berukuran kecil yang berjumlah lima buah dalam satu bungkus. Saat ini kue mangkok tidak hanya disajikan dalam warna merah saja tetapi berbagai macam warna cerah dan menarik lainnya.

Ombus-ombus merupakan makanan yang terbuat dari tepung beras yang didalamnya terdapat gula kemudian dibungkus dengan daun pisang. Asal-usul ombus-ombus adalah dari seorang pedagang Batak bernama Musik Sihombing yang hidup di tahun 1940an yang menjual ombus-ombus dengan nama Lappet Bulung Tetap Panas. Setelah ia meninggal, usaha tersebut diteruskan oleh tetangganya, namun nama jualnya diganti menjadi ombus-ombus karena dianggap terlalu panjang untuk diteriakkan saat berjualan. Nama tersebut dibuat karena ombus-ombus harus ditiup saat dimakan. Hingga saat ini orang mengenal makanan tersebut dengan nama ombus - ombus.
Lepet

Lepet adalah makanan dari tepung ketan yang dicampur dengan kacang, dimasak dalam santan, kemudian dibungkus menggunakan daun janur. Makanan ini sering ditemukan di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda. Lepet diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang juga memperkenalkan ketupat. Tradisi sungkeman pun erat kaitannya dengan lepet karena sungkeman merupakan implementasi ‘ngaku lepet’ atau mengakui kesalahan. Setelah ngaku lepet, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulangi lagi, dan diharapkan persaudaraan menjadi semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Komentar
Posting Komentar